Kelurahan/Desa Dieng:

Dieng adalah sebuah desa di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa Dieng berjarak sekira 9 km dari ibu kota kecamatan atau 26 Km dari ibu kota Kabupaten Wonosobo.

Sejarah

Nama Dieng berasal dari bahasa sanskerta Die Hieyang ( Edi dan Aeng ) Indah dan langka. Dieng yang berasal dari dua suka kata. “Die” dan “Hyang”, dimana “Di” dimaknakan sebagai ardhi, redi, wukir, arga, dan lain-lain yang artinya gunung atau tempat tinggi, yang puncak, yang ultimate, yang misterius, yang transanden, yang sempurna, yang adi kodrati, yang abstark dan eksternal,, dan meta di luar makna-makna “yang nyata”, natural, reality (yang ergelar/di gelar) dan lain-lain. Di luar itu juga “Di” juga di anggap di luar dari konteks “hadi”, “adi” yang di maknai sebagai “yang cantik”, indah, molek, dan mempesonakan, Dan “Hyang” adalah sebuah kata sandang yang biasanya di pakai untuk penyebutan yang gaib (nominousum) dewa-dewa atau yang diyakini sebagai dewa, Ruh leluhur, Tuhan atau suatu yang diyakini sebagai Tuhan atau makhluk-makhluk ilahiyah lainya. Sementara “Hayang”, juga di makanai sebagai tempat dari makhluk-makhluk ilahiah tersebut, yang kemudian di identifikasi sebagai “Kahyangan, nirwana, atau surga”. Yakni dewa-dewi, Tuhan atau makhluk-makhluk pada umumnya. Sehingga Dieng dikenal sebagai tempat bersemayamnya para Dewa dan ada juga yang menjuluki negeri diatas awan begitu banyak sebutan untuk Dieng ini karena keelokan, Keindahannya dan Keunikannya.

Perekonomian

Di bidang perekonomian Desa Dieng memiliki banyak kios /toko dan warung makan. Karena Dieng sebagai daerah tujuan wisata. homestay / penginapan pun banyak yang di dirikan oleh masyarakat. Dunia pariwisata menjadi target alternatif unggulan pendapatan masyarakat setelah usaha pertanian. Home industry carica insirup, kripik carica, dan kripik kentang pun mulai berdiri.

Pariwisata

Desa Dieng juga merupakan daerah tujuan wisata primadona di Provinsi Jawa Tengah tiap tahunnya kunjungan para wisatawan selalu menunjukan kenaikan yang signifikan. Disamping pemandangan alam yang begitu indah dan elok dipadu dengan benda-benda cagar budaya /peninggalan zaman purbakala. Berupa Batu Kelir, Tuk Bimo Lukar, Telaga Warna Pengilon, Goa Semar, Goa Sumur, Dieng Plateau Theater ( sebuah pemutaran film tentang alam dan budaya dataran tinggi Dieng dengan durasi 25 menit), Wana /Agro wisata petak 9, Golden Sunrise Gunung Prahu, Gunung Pakuwaja, Wisata Religi Makom Syeh Ngabdullah Syelomanik dan Makom Manggolo Yudho, Makom orang Belanda. Kesenian tradisional pun tumbuh subur bagaikan jamur dimusim penghujan dalam rangka menyukseskan Dieng sebagai tujuan wisata seperti angguk, kuda kepang, lengger, drumband PKK, tek-tek dan kubro siswo serta anak berambut gimbal yang menjadi legenda hidup yang semakin menambah keelokan dan keunikan Desa Dieng.

Bagikan: