Kelurahan/Desa Lamuk:

Lamuk adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Kalikajar, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejarah Desa

Tak ada yang mengetahui secara pasti kapan berdirinya desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar , Kabuapten Wonosobo. Namun, hasil penuturan cerita tokoh, Ada Sesepuh ( bukti makam),Beliau sosok yang pertama kali babat alas di Desa Lamuk, Beliau bernama Mbah Nur Iman. Beliau dipercaya sebagai  tokoh pertama kali yang menetap dan memberi nama Lamuk.

Kala itu wilayah yang saat ini dinamai Desa Lamuk, merupakan hutan belantara dengan rerimbunan pohon pinus yang besar dan aneka tumbuhan lainnya yang sangat lebat. Letak yang strategis, karena berada dibawah kaki Gunung Sumbing  membuat Mbah Nur Iman tertarik untuk singgah dihutan tersebut. Sebab, lokasinya sejuk dengan lahan yang masih alami.

Beliau singgah beberapa bulan di hutan tersebut, Mbah Nur Iman memiliki rencana untuk mencari pendamping hidupnya. Hingga akhirnya, ditemukanlah sosok perempuan (sampai saat ini tidak diketahui nama dan alamatnya) yang cantik dan dijadikan sebagai pendamping hidup Mbah Nur Iman. Berjalannya waktu, mereka menjalin hubungan yang harmonis. Namun, tanpa alasan yang pasti, beberapa bulan kemudian, Istri mbah Nur Iman pergi tanpa alasan. Beberapa bulan pergi tanpa alasan  membuat Mbah Nur Iman mencari cara untuk memanggil sang Istrinya untuk pulang. Langkah yang dilakukan Mbah Nur Iman adalah dengan membakar kemenyan. Proses pembakaran kemenyan itu Mengumpulkan asap yang luar biasa yang hampir menyerupai awan, hal itu mampu mengundang sang Istri untuk pulang kerumah. Kemudian, sang Istri juga berjanji untuk tidak meninggalkannya kembali. Mereka kemudian berkeluarga, hingga akhirnya menetap dihutan tersebut dan memberikan nama hutan itu dengan nama kampung Lamuk.

Ada yang memaknakan Nama Lamuk memiliki arti “Ala tur Mukmin “ . pada saat terjadinya pembakaran Kemenyan yang mengumpulkan asap yang menyerupai awan maka orang menyebutnya dengan kata lamok , lamuk itu awan.

Bergantinya tahun, jumlah penduduk di dusun Lamuk mulai meningkat. Hingga akhirna, Mbah Nyai Legunder yang memiliki lahan di sebelah dusun Lamuk berencana untuk Bersinggah di hutan itu. Hingga akhirnya, memboyong keluarganya untuk pindah ke lahan yang luas disebelah Lamuk. Untuk memudahkan nama lokasi tersbut, keluarga Mbah Legunder memberikan lahan tersebut dengan sebutan Dusun Wonolobo. Wonolobo itu diambil dari kata Wono dan Lobo. Kata Wono memiliki makna Lahan. Dan Lobo memiliki arti Luas, jika dihubungkan maka Wonolobo memiliki makna lahan yang luas.

 

Tak berhenti di situ, keturunan Mbah Nur Iman semakin hari semakin banyak. Untuk melatih keturunanya bisa mandiri, maka Mbah Rengganis disuruh untuk menyinggahi lahan

yang ada disebelah Dusun Wonolobo. Mbah Rengganis masih bingung untuk memberikan nama dusun tersebut, namun karena ketaatannya terhadap Allah. Mbah rengganis memberikan lokasi tersebut dengan sebutan kampung Semanding. Semanding memiliki makna “Nyandeng karo Seng Kuoso” atau “pasrah terhadap Allah”.

Hampir puluhan keturunan Mbah Nur Iman bisa menempati lahan-lahan tersebut dan memberikan nama serta memanfaatkan lahannya untuk mata pencaharian. Namun, apalah daya, konflik keluarga terjadi, pada saat itu terjadi perang saudara diantara tiga dusun yakni Lamuk, Wonolobo dan Semanding. Perang saudara tersebut membuat sebagian warga di tiga dusun yang diprakarsai oleh Mbah Ronting untuk pindah  atau mengungsi disebuah lahan yang jaraknya masih dekat, kemudian lahan tersebut yang pada akhirnya akan menjadi cikal bakal dusun Genting. Nama dusun Genting tersebut diambil dari makna kegentingan yang terjadi di 3 desa.

Ditengah-tengah kegentingan itulah, muncul pendatang bernama Mbah Lebu dan Mbah Demung. Mereka merupakan Mpu atau orang yang ahli membuat Keris. Hingga akhirnya, mereka menetap dilahan  yang letaknya tak terlalu jauh dari Genting. Mereka menetap dan memberikan nama lahan tersebut Pangempon. Pangempon ini diambil dari kata “Empu” para penduduknya yang ahli membuat keris. Sampai saat ini, masih ada peninggalan keris yang tersisa dan diwariskan turun temurun ke anak keturunanya.

Tak hanya itu, kedatangan seseorang dilahan yang ada diwilayahnya membuat orang-orang resah. Hingga akhirnya, pendatang tersebut diajak bergabung ke Pangempon. Namun, mereka tidak mau, hingga akhirnya orang-orang Pangempon menamakannya sebagai dusun Pencil. Karena, letaknya yang terpencil dan tidak mau diajak untuk bergabung.

Berjalannya waktu, orang-orang Pangempon yang memiliki lahan di sebelahnya merasa jaraknya terlalu jauh. Sementara, tanamannya kurang aman. Hingga akhirnya, beberapa penduduk asli Pangempon memiliki rencana untuk pindah ke lahan yang dikelolanya. Mereka, menamakan lahan tersebut dengan sebutan Kertosobo. Kerto memiliki makna Rejeh dan Sobo memiliki makna disaba atau dikelola. Jika digabung, maka artinya lahan tersbut sangat baik untuk dikelola.

Setelah terbentuknya sebuah dusun-dusun dengan penghuninya dan dengan kesejahteraannya, pada tahun 1815 penjajah mulai memasuki kampung tersebut. Tak ada yang bisa dilakukan apa-apa, orang pribumi hanya bisa patuh dengan perintah penjajah.

Tatanan yang sudah terbentuk tersebut, oleh Belanda mulai ditata dan digabungkan menjadi satu. Awalnya sempat mendapat penolakan oleh warga di berbagai dusun.

Namun, karena kepiawian penjajah memanfaatkan orang pribumi, lambat laun ajakan penjajah dituruti oleh warga di 7 dusun, yakni Lamuk, Wonolobo, Semanding, Genting, Pangempon, Kertasobo dan Pencil dengan membentuk satu desa bernama Lamuk dengan satu kepemimpinan.

Bagikan: