Kelurahan/Desa Mungkung:

Mungkung adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Kalikajar, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejarah Desa

Pada tahun 1825, Raden Saifur, atau yang biasa disebut Raden Dipapenggala, meneruskan peninggalan Kyai Sana Dipapenggala untuk membentuk sebuah desa di Wonosobo. Raden Dipapenggala merupakan seorang mandor yang pada masa itu memiliki tanggung jawab untuk membangun sebuah selokan yang bertitik awal dari Selobumi, Bumitirto, hingga Krasak, Selomerto. Namun pada saat pembangunan selokan sampai di Desa Cledok, selokan tersebut mengeluarkan air darah. Akhirnya beliau menunggu dengan harapan air darah tersebut berhenti, Namun setelah 7 hari 7 malam air darah tersebut tidak lekas berhenti dan terus keluar dari tanah. Maka Raden Dipapenggala memutuskan untuk bersemedi, Kemudian saat bersemedi beliau dimintai banten (tumbal) dan 1000 gulung kain mori sebagai syarat agar air darah tersebut dapat berhenti. Karena syarat tersebut terlalu berat, akhirnya beliau memutuskan untuk menghentikan pembangunan selokan di Desa Cledok. Selokan yang awalnya ingin diberi nama Selokan Bumitirto, karena titik awalnya berada di Desa Bumitirto, namun beliau memberi nama selokan tersebut dengan Selokan Mungkung. Kata mungkung sendiri terdiri dari 2 kata, yaitu "mung" dan "kung". "mung" yang berarti hanya, sedangkan "kung" yang berarti Semedi. Nama ini sesuai dengan pengalaman Raden Dipapenggala selama melakukan pembangunan selokan tersebut, beliau akhirnya hanya melakukan semedi disaat munculnya air darah di Desa Cledok.

          Pada tahun yang sama, Datanglah Krincing Wesi di sebuah tanah jawa yang berada di daerah Mungkung yang dipimpin oleh Raden Dipapenggala. Beliau membentuk sebuah daerah yang bernama Gumawang. Daerah tersebut berada tepat di ujung perbatasan Desa mungkung dan Desa Mangunrejo. Kata Gumawang merupakan singkatan dari "Gumunan lan mung nyawang", yang berarti masyarakat Gumawang pada waktu itu penasaran tapi hanya bisa melihat warga Mungkung, yang pada waktu itu di Mungkung sselalu bisa berhura-hura dengan berbagai cara salah satunya adalah melakukan Tari Lengger setiap saat. Disaat di Mungkung ada Tari Lengger, maka semua masyarakatnya mengikuti dan menikmati pertunjukan Lengger tersebut dan mengabaikan hal-hal lainnya.

          Setelah beberapa tahun kehidupan di Mungkung berjalan, datanglah seorang Kyai dari Yaman yang bernama Habib Hassan Asyiar bin Sholeh yang berniat untuk memperbaiki akhlak yang ada di Mungkung. Beliau mulai memperbaiki desa tersebut dari mengurangi kegiatan Lengger dengan cara memberikan pengertian dan kesibukan lain yang lebih bermakna, seperti memulai mengajarkan untuk mengaji dan sholat. Tak lama setelah Habib Hassan berada di Desa Mungkung, akhlak masyarakat pun mulai membaik dan Beliaupun menjadi salah satu tokoh yang dihormati di Mungkung. Masyarakat Mungkung melakukan ziarah ke Makam Habib Hassan untuk mengenang dan berterimakasih kepada beliau yang telah memperbaiki akhlak desa, hal ini rutin dilakukan oleh warga setiap tanggal 1 hinggal tanggal 7 Dzulkoijah.

          Beberapa tahun setelah itu, datanglah seseorang dari Purwokerto yang bernama Tambak Boyo ke sebuah lahan diujung Mungkung yang berbatasan dengan Desa Bogoran. Beliau membuka lahan yang ada disana dan membiarkan masyarakat untuk membangun sebuah daerah disana. Daerah tersebut diberi nama Karanganyar, yang merupakan singkatan dari Pekarangan Anyar, yang berarti sebuah lahan baru yang ada di Desa Mungkung. Karanganyar merupakan daerah paling baru yang ada di Mungkung. Sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan menimbulkan memiliki pemandangan yang asri. Tambak Boyo menjadi orang yang sangat berpengaruh di Karanganyar, selain membukakan lahan untuk hidup, beliau juga memberikan pembelajaran akhlak di Karanganyar. Ketiga daerah tersebut akhirnya menjadi sebuah satu kesatuan berdasarkan batas wilayah administratif yang telah ditentukan dan diberi nama Desa Mungkung, dilihat dari daerah pertama yang ada disana.

Bagikan: