Kelurahan/Desa Plodongan:

Plodongan adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Sukoharjo, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejarah Desa

Pada zaman  dahulu kala ada seorang kamitua Desa yang bernama Ki Buyut Sadin. Beliau singgah di sebuah perkampungan kecil yang sebagian penduduknya menggunakan peralatan  dari bambu untuk mengambil air bersih dan juga tempat air Nira/Badik ( Nderes Aren ). Ketika ki Buyut Sadin melanjutkan perjalanannya, dia pun melihat orang yang sedang mengambil air nira ( nderes aren ). Kemudian ia bertanya: “ Sing nggo wadah banyu aren ( Badik ) jenenge apa? (wadah untuk air nira namanya apa?, “LODONG”, jawab salah seorang penduduk tersebut. Karena banyaknya penduduk kampung yang menggunakan bambu sebagai  tempat air minum dan air nira (Nderes aren) Ki Buyut Sadin pun memberikan nama perkampungan itu dengan nama “ PLODONGAN “  Lodong ( tempat air nira/ aren yang berasal dari Bambu) dan semenjak itu Ki Buyut Sadin pun menetap di kampung tersebut hingga akhir hayatnya, juga makamnya ada di kampung tersebut.


Desa Plodongan yang terdiri dari 6 dukuhan ini, juga memiliki sejarah masing-masing, yaitu:

1. Sejarah Dukuh Semampir

Suatu hari Ki Demang Kerta Leksana yang biasa di panggil Kyai Baleragas melakukan perjalanan dengan beberapa pengikutnya, dan tibalah mereka di sebuah perkampungan kecil yang bernama  Plodongan. Disana mereka bertemu dengan kamitua kampung yang bernama Ki Buyut Sadin. Melihat kecilnya perkampungan itu, Ki Demang Kerta Leksana menawarkan untuk memperluas wilayah perkampungan dengan perjanjian akan memberikan tanah di wilayah kekuasaannya dan sebagai imbalannya kampung sebelah bisa mengalirkan air irigasi dari kampong tersebut. Ki Demang kerta Leksana juga memberikan petuah agar di kemudian hari tidak di langgar oleh Ki Buyut Sadin dan keturunannya, larangan tersebut yaitu: Tanah tersebut boleh di tempati turun temurun akan tetapi tidak boleh di jual, Ki Buyut Sadin pun menerima tawarannya dan semenjak itu tanah hasil perjanjian di berinama  “SEMAMPIR”  ( di gantungkan ).

 

2. Sejarah Dukuh Banjaran Kidul dan Banjaran Lor

Ki Demang Kerta Leksana (Kyai Baleragas) dan para pengikutnya kemudian melanjutkan perjalanannya, dan sampailah di sebuah perbukitan. Ki Demang Kerta Leksana terpesona dengan kesuburan tanah dan alamnya, juga karena luasnya perbukitan tersebut ki Demang Kerta leksana sampai menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah utara dan selatan kepada para pengikutnya dan memerintahkan kedua pengikutnya yang bernama kyai Jenggot dan kyai Rese bodol ( nama samaran ) untuk mendirikan pemukiman di perbukitan tersebut sebagai kampong tempat tinggal kedua pengikutnya, ki Demang Kerta Leksana pun berharap agar kedua pengikutnya bisa hidup guyup rukun, damai  dan sejahtera sehingga perbukitan itu pun di bagi menjadi dua wilayah perkampungan, Utara dan Selatan dan di berinama   “ BANJARAN LOR  dan  BANJARAN KIDUL “   ( Banjar- Pemekaran )

3. Dukuh Tindakan Kidul dan Tindakan Lor

Ki Demang Kerta Leksana (Kyai Baleragas ) juga singgah di sebuah perkampungan untuk bertemu dengan Ki Suro Kerti dan Ki Wangsa Kerti, keduanya adalah kakak beradik  yang juga di segani di kampong tersebut, namun betapa kecewanya ki Demang Kerta Leksana karena tidak bisa bertemu dengan Ki Suro kerti dan Ki Wangsa kerti sehingga tanpa sengaja mengucapkan kata-kata “ Dasar bakul kendil ,saben dina lungan terus ngalor ngidul “  ( Dasar penjual kendil/ gerabah setiap hari selalu bepergian )  sehingga dari kata-kata yang di ucapkan Ki Demang kepada Ki Suro kerti dan ki Wangsa kerti perkampungan itupun di berinama “ TINDAKAN LOR DAN TINDAKAN KIDUL “ (Tindakan - Bepergian ).

4. Tindakan Sinang

Berawal dari sebuah kejadian bencana alam  yang terjadi pada sekitar tahun 1987. Perbukitan yang berada di atas pemukiman warga dukuh Tindakan kidul longsor dan mengakibatkan kerusakan tanah dan rumah warga sehingga mengharuskan warga yang terkena dampak longsoran tanah tersebut pindah  (Relokasi ) ketempat yang baru, di sebelah barat makam Desa yaitu tanah Negara( Gege ) yang gunakan untuk imbalan atau upah atas jabatan juru kunci makam Desa / penjaga makam. Sejak saat itu pemukiman yang baru  di berinama “ SINANG “ ( yang mengenang / mengingat ).

Bagikan: